Dru Oh Dru

siang yang panas dan baruuuuuuu saja sampai disekolah hanya sekedar untuk menambah jam PKP (bahasa kerennya praktek kerja profesi geto lowh :D) yang kurang. eh ada missed call 2x dan ternyata eh ternyata yang telepon ya supervisor kampus (mau bilang dosen pembimbing ae ribet yeks ;p).

bu “U” : kasus smp kamu piye?

saya : lowh bu bukannya kemaren udah di tanda tangan?

bu “U” : iya tapi khan dibreak down aja soalnya subyek kamu udah lulus. nambah kasus toh? inget gak siyh dari pembicaraan saya sama bu “R” waktu kamu bimbingan.

saya : oh iya bu, saya ingat. kata ibu saya mesti kena penalti (kayak melakukan kesalahan dalam tendangan di permainan sepak bola aja yaks?fiuuuhhh….) dengan nambah kasus.

bu “U” : ini ada satu kasus di salah satu biro kampus. kamu tangani ya!!!!

saya : baik ibu saya akan datang di PPT dan berkantor untuk menambah jam praktek lagi.

2 hari setelah pembicaraan itu, datanglah saya ke sekolah yang sudah diberitahukan untuk bertemu dengan wali kelas bu “Ro” dan pak “AR”. eh waktu nunggu diruang tamu sama temen2 satu profesi juga, ujug2 ada salah satu guru BK dateng namanya pak “B”

pak “B” : ada apa keperluannya ya mba dan cari siapa?

saya : maaf bapak saya mencari pak “AR” atas rujukan dari bu “Ro” untuk meminta data lebih lanjut tentang salah satu anak yang dikeluhkan memiliki masalah namanya “Dru”

dan saat selesai menjelaskan tentang alasan mengenai maksud dan tujuan menemuai pak “AR” mulailah pak “B” berceramah mengenai siapa dia

pak “B” : wah bu “Ro” ini gak benar. saya khan harusnya tahu dan ada prosedur di sekolah ini gak bisa sembarangan main dateng aja. saya merasa terlangkahi dengan wewenang saya sebagai koordinator BK dan harusnya kami yang menangani. kami bisa menunjuk yang berwenang dan kami ini ISO jadi gak bisa sembarangan harus ada laporannya nanti ke atas (sek to ya pak. iki kasus anak’e onok hubungane karo iso ambek laporan tah??? wong sing butuh iku sopo??? nah lowh…bingung khan? yang minta dateng buat data selanjutnya mengenai klien siapa lha kok malah kita yang disemprot :s)

mba “N” (kawan seprofesi saya) : kami mohon maaf sebelumnya. kami datang ke sini atas perintah dari atasan bahwa ada masalah yang harus ditangani untuk dibantu penyelesaiannya. masalah prosedur dan segala tetek bengek yang ada kami tidak tahu menahu. kalau bapak merasa keberatan silahkan berkoordinasi langsung dengan bu “Ro” selaku wali kelas yang sudah datang untuk minta bantuan. kalau sudah selesai birokrasi anda silahkan anda hubungi kembali kami di biro (dengan rasa kesal 3-3nya sambil menahan emosi agar tidak marah)

dan akhirnya pulang dari sekolah itu dengan rasa kesal dan saya langsung curhat dengan pembimbing saya!!!

saya : bu saya udah ke sekolah atas permintaan dari salah satu asisten agar dapat data lengkap. tapi ternyata saya kecentok di BK dengan bla…bla…bla alasan

bu “U” : kalau kamu diping-pong seperti ini sudah ditinggal saja dan kembalikan ke biro!!!

asiiiiiikkkkk…gak jadi nambah kasus cuman nambah jam. udah seneng banget niyh. eh hari ini saya dapat telepon dari wali kelas si ibu “Ro”

bu “Ro” : mba, mohon maaf pak “B” tidak tahu apa2. saya dan pak “AR” minta kasus dilanjutkan karena ini permintaan dari orang tua “Dru”. gambaran kasusnya bla…bla…bla…

saya : ibu langsung hubungi biro saja

bu “Ro” : saya berhubungan dengan mba saja biar “Dru” dapet penanganan cepat.

saya : iya ibu monggo

akhirnya saya hubungi pembimbing lagi dan eng…ing…eng….jawabannya adalah silahkan dilanjutkan.

dru oh dru…banyak banget yang sayang sama kamu kok dan khawatir dengan kamu. semangat ya… saya support kamu ^_^

nah pelajaran yang saya dapet bapak…bapak…jadi orang jangan sombong ya… kita masing-masing menghargai setiap profesi dan kredibilitas kita dalam sebuah pekerjaan. saya tidak akan melangkahi anda karena saya sendiripun masih belajar. saran saya buat bapak “belajarlah menerima kelemahan dan ketidakmampuan tapi jadikan itu sebagai batu pijakan bapak untuk menjadi contoh yang baik bagi orang lain, jadi ilmu yang bapak pelajari selama bertahun2 tidak akan percuma hanya untuk kesombongan saja😉

Jogja ku Selalu Istimewa (Itu Dlu Saat Pertama X Datang ^_^)

hmmmm,,,harus mulai dari mana ya??? jadi bingung😀 tapi yang penting go on aja deyh biar gak bingung. apa kalo bingung tinggal pegangan…. hahahahaha….. yukssss mareee cyinnn (rempong deyh bencongnya dateng :p)…..

pertama kali memulai hidup dijogja itu aku pikir bahagia dan dengan kalimat “SELAMAT DATANG BAHAGIA”…. eh nyatanya salah lah yaaaaaa… yang ada malah kalimat yang pernah paling gak bisa ku lupa “SELAMAT DATANG PENDERITAAN DI DALAM HATI….SELAMAT DATANG KEHANCURAN UNTUK KESEKIAN KALINYA” *karena saking tolol melebihi keledai padahal ya keledai jatuh dilubang sama juga mikir dlu bukan asal jatuh aja :D*)

pertama kali juga kenal cwo yang mau aja disuruh macem2 entah jadi supir,tukang antar kesana kemari,minta beli ini dan itu (bukan pakai uang sendiri tapi pinjeman bhooooo…hahahahahaha) sampai rela kayak kerbau ditarik idungnya kemana-mana a.k.a gampang banget buat dimanfaatkan,,,,tu cwo entah bego apa tolol tapi ya pastinya dy punya banyak pacar….hahahahahaha *sayangnya tampang dan performance tidak menjanjikan brooooo*…..tu cwo mank paling banyak akalnya….hanya satu kebodohannya…..walaupun memanggil nama pacarnya dengan sebutan yang berbeda tapi ketika ngomong kalimat forward semua *persis kayak sms yang sering dikirimnya ke sebanyak jumlah pacarnya* dari jaman behula sampai jamannya udah canggih teknologi….wkwkwkwkwkwkwk LOL!!!!!

saking khusuknya kenal sama ni cwo,,,,gak nyadar kalo udah berkali2 bikin nangis dan berpuluh2 kali dikibulin sama dia *ya iya lah kerjaannya boong aja tapi keren bisa menyimpan sekian lama* atau karena saya bener2 emang butaaaaaaaaa *kayak lagu dangdut asssseeeekkkk seeeerrrrrr hahahahaha*…..

gak usah diceritain ajalah gimana jalan ceritanya dari mulai sampai khatam *manknya lagi ngaji yaks…hehehehehe*…tapi nyatanya memang TUHAN itu sayang banget sama saya (bukan cuman saya tapi seluruh makhluk yang Ia ciptakan dimuka bumi ini :D)…..

many lesson i got : JANGAN PERNAH GAMPANG JANJI KALAU SUATU SAAT AKAN INGKAR,,,,JANGAN BILANG SELALU INGIN MENJADI YANG TERBAIK KARENA KITA BELUM TAHU RENCANA TUHAN APA (siapa tahu ada yang lebih terbaik lagi mau apa hayoooooo???? :p),,,JANGAN MENILAI ORANG LAIN DARI LUARNYA SEDANGKAN KITA BELUM TAHU ORANG ITU SESUNGGUHNYA!!!!!!

NB : GIRL,,,JANGAN PERNAH CARI SAYA LAGI KARENA KAMU CUMAN BIANG RUSUH DALAM HIDUP SAYA…..SAAT INI SAYA CUMAN INGIN MEMILIKI HIDUP SAYA KEMBALI…..JADI MARI KITA SECARA KHIDMAT MENGURUSI JALAN HIDUP MASING-MASING🙂

 

 

*to be continued*

Renungan Untukmu Kekasihku, Calon SuamiQ

Wahai kekasihku, calon suamiku…
Jika kau menjadi suamiku kelak…
Pimpinlah rumah tangga kita dengan sebaik-baiknya
Jadikan aku teman sejatimu,
tempat engkau bersandar
Terbukalah padaku,
kan kujaga semua rahasiamu
 
Jika kau menjadi suamiku kelak…
Jadilah engkau teladan yang baik bagi keluarga
Sempatkanlah untuk menjadi imam dalam sholat
Hiasilah rumah kita dengan ketakwaan kepada Allah
Amalkan sunnah Rasul sekuat yang kau mampu
Bimbinglah anak-anak kita
menjadi pribadi Muslim yang cerdas dan berakhlak mulia
  
Jika kau menjadi suamiku kelak…
Bergaullah dengan ma’ruf terhadapku
Jadilah engkau suami yang penyayang dan sabar
Janganlah kau bertindak aniaya terhadapku
Jika aku berbuat kesalahan dan kemungkaran…
Jangan kau hukum aku dengan memukul aku
Tapi, ajarilah aku dengan hati dan lisanmu
Ingatkanlah aku dengan cara yang ihsan
Tahan amarahmu dan bersikaplah pemaaf
 
Sayangi dan hormati orang tuaku, juga saudara-saudaraku
Jika ada yang tidak kau sukai dari mereka,
simpanlah rasa itu
Dan tetaplah kau jaga silaturrahim dengan mereka
Jangan pula kau jauhi mereka
karena selamanya mereka adalah keluargaku
 
Wahai kekasihku, calon suamiku…
Jika kau menjadi suamiku kelak
Jadilah engkau suami yang bertanggung jawab
Berilah nafkah sesuai kemampuanmu
Pasti kuterima dengan qona’ah
Bersikaplah penyantun
dan jangan kau kikir terhadapku
Jangan pula kau tinggalkan aku dalam waktu lama
Sehingga kau abaikan kebutuhanku akan kehadiranmu
 
Jika kau menjadi suamiku kelak
Bersikaplah bijaksana dalam segala hal
Bermusyarahlah denganku sebelum mengambil keputusan
Dengarkan pemikiranku
dan jangan kau remehkan aku
 
Tunjukkan kasih sayangmu terhadapku
Jangan kau biarkan aku dalam kecemburuan dan prasangka
Jagalah hatiku,
lapangkanlah dadaku, dengan cintamu
 
Wahai kekasihku, calon suamiku…
Jika kau menjadi suamiku kelak
Jadikan rumah tangga kita sebagai surga dunia bagimu
Jagalah aku dan jadilah pelindung bagi anak-anak kita
Jagalah rahasia rumah tangga dimanapun kau berada
Jadikan ia baju putihmu, jagalah ia jangan sampai ternoda

LETTING GOOOOOOOOOOOOOOOO…

yang mengendap lama akhirnya keluar sudah

yang tertinggal bekas akhirnya selesai sudah

ya….

saatnya memaafkan seluruh kejadian di masa lalu

hanya untuk sebuah masa depan yang sudah di depan mata

 

menangis juga aku akhirnya diterapi sama mba “F”. kata2 yang kuingat adalah

– bahwa aku terlalu berharga dan anak yang baik bagi orang tuaQ. aku anak yang memang tak ada cela dimata mereka dan aku memang pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dari sebuah masa lalu.
– bahwa ia mencintaiku dengan segala kelebihan dan kekuranganku dan menjadikan ku jauh lebih baik dari masa laluku

 

 

makasih mba…saatnya memang melepaskan dan memaafkan semuanya…

semoga selalu tercurah seluruh kebaikan dariNya untuk kalian, dia, dan mereka.

Amien…

PENYESUAIAN DIRI REMAJA DI SEKOLAH

A. PENGERTIAN PENYESUAIAN DIRI

Guru mengeluhkan seringkali siswa di sekolah tidak dapat menyesuaikan diri baik dengan aturan yang ada di sekolah maupun teman-teman sebayanya. Seperti contohnya ada siswa yang sering mengabaikan tugasnya sehingga guru menganggap bahwa anak membangkang dan segera ditarik ke ruangan BK karena dianggap melanggar peraturan. Ada pula yang bertindak tidak sopan dengan salah seorang guru sehingga guru yang lain menanggap bahwa anak tersebut membuat perilaku yang buruk dan memberikan ketidak nyamanan terhadap lingkungan sekitarnya (Wawancara guru BK, 2010).

Penyesuaian diri merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan manusia hampir selalu berkaitan dengan penyesuaian diri, namun tidak semua tingkah laku manusia dapat dikatakan sebagai proses penyesuaian diri. Schneiders (1964) mengatakan bahwa konsep penyesuaian diri tidak dikenakan pada aktivitas manusia yang bersifat netral, misalnya seseorang yang berjalan-jalan, mendengarkan musik, atau menulis surat. Menurut Schneiders (1964) penyesuaian diri timbul apabila terdapat kebutuhan, dorongan, dan keinginan yang harus dipenuhi oleh seseorang, termasuk juga saat seseorang menghadapi suatu masalah atau konflik yang harus diselesaikan. Individu pada kondisi ini, akan mengalami proses belajar, belajar memahami, mengerti, dan berusaha untuk melakukan apa yang diinginkan oleh dirinya, maupun lingkungannya. Artinya, individu perlu mempertimbangkan adanya norma-norma yang berlaku di lingkungan dalam memenuhi kebutuhannya (Affiatin, 1993). Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelaraskan pemuasan kebutuhan diri dengan situasi lingkungan sehingga tercapai suatu integrasi dan keseimbangan.

Penyesuaian diri dapat dikatakan sebagai usaha beradaptasi, konform terhadap hati nurani maupun norma sosial, serta perencanaan dan pengorganisasian respon dalam menghadapi konflik dan masalah. Penyesuaian diri didukung oleh adanya kematangan emosi yang menyebabkan individu mampu untuk memberikan respon secara tepat dalam segala situasi.

Masalah penyesuaian timbul apabila ada suatu tuntutan dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang, atau apabila seseorang dihadapkan pada kesulitan yang harus diselesaikan, atau seseorang menghadapi konflik batin yang harus dipecahkan, dan kalau seseorang berada dalam keadaan frustasi dan mencoba mengatasinya (Schneider, 1964). Tuntutan semacam ini sering dijumpai pada setiap orang, baik dalam kehidupan bermasyarakat, di perkejaan, ataupun di dalam menghadapi tanggung jawab disegala bidang. Seseorang dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan, apabila dihadapkan pada persyaratan yang harus dipenuhi akan melibatkan kepribadian dan perilaku untuk terciptanya usaha penyesuaian. Proses penyesuaian berbentuk respon, sedangkan respon tersebut mewujudkan ekspresi langsung dari kepribadian.

Schneider (1964) berpendapat bahwa penyesuaian mengandung banyak arti, antara lain misalnya seseorang berusaha mengurangi tekanan dari dorongan kebutuhan atau seseorang yang mencoba mengurangi frustasi, dapat mengembangkan mekanisme psikologis, membentuk simptom, menggunakan pola perilaku yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai situasi, dapat juga bersikap tenang, efisien dalam memecahkan konflik dan belajar sebaik-baiknya menempatkan diri di tengah-tengah orang lain. Semua usaha tersebut tergolong usaha penyesuaian diri.

Menurut Tallent (Setiowati, 2000) di dalam setiap tahap kehidupan, individu akan berusaha untuk mencapai keselarasan antara tuntutan personal, biologis, sosial dan psikologis, serta tuntutan lingkungan sekitarnya. Ada sebagian individu yang berhasil dalam melakukan penyesuaian diri tetapi ada juga yang terhambat. Penyesuian diri yang baik akan memberikan kepuasan yang lebih besar bagi kehidupan seseorang. Hanya individu yang mempunyai kepribadian yang kuat yang mampu menyesuaikan diri secara baik.

Menurut Satmoko (2004) penyesuaian diri dipahami sebagai interaksi seseorang yang kontinu dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dunianya. Seseorang dikatakan mempunyai penyesuaian diri yang berhasil apabila ia dapat mencapai kepuasan dalam usahanya memenuhi kebutuhan, mengatasi ketegangan, bebas dari berbagai simptom (gejala) yang mengganggu seperti, kecemasan, kemurungan, depresi, obsesi, atau gangguan psikosomatis yang dapat menghambat tugas seseorang. Sebaliknya, gangguan penyesuaian diri terjadi apabila seseorang tidak mampu mengatasi masalah yang dihadapi dan menimbulkan respons dan reaksi yang tidak efektif, situasi emosional yang tidak terkendali, dan keadaan yang tidak memuaskan.

Schneider (1964) mengatakan bahwa penyesuaian diri mempunyai empat unsur. Pertama, adaptation yaitu penyesuaian diri dipandang sebagai kemampuan individu dalam beradaptasi. Orang yang penyesuaian dirinya baik berarti ia mempunyai hubungan yang memuaskan dengan lingkungan. Misalnya, menghindari ketidaknyamanan akibat cuaca yang tidak diharapkan, maka orang membuat sesuatu untuk dapat berlindung. Kedua, conformity yaitu seseorang dikatakan mempunyai penyesuaian diri baik apabila memenuhi kriteria sosial dan hati nuraninya. Ketiga, mastery yaitu orang yang mempunyai penyesuaian diri yang baik mempunyai kemampuan dalam merencanakan da mengorganisasikan sesuatu respons yang muncul dari dalam dirinya sehingga dapat menyusun dan menanggapi segala masalah dengan efisien. Keempat, individual variation yaitu ada perbedaan individual pada perilaku dan respons yang muncul dari masing-masing individu dalam menanggapi masalah.

Menurut Gunarsa dan Gunarsa (Karanina & Suyasa, 2005) ada orang yang cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan, namun ada juga yang perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam dirinya dengan usaha penyesuaian diri seseorang mengadakan perubahan-perubahan tingkah laku dan sikap supaya mencapai kepuasan dan sukses dalam aktivitasnya, sedangkan menurut Fernald penyesuaian diri adalah “a continous process and in a general sense, it exust on a continuum”. Artinya bahwa penyesuaian diri adalah proses yang terus menerus dan bukan tahapan statis atau berhenti. Lebih khusus proses konstan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individu sebagaimana selalu timbul sepanjang kehidupan individu tersebut.

Dasar penting bagi terbentuknya suatu pola penyesuaian diri adalah kepribadian. Perkembangan kepribadian pada dasarnya dipengaruhi oleh interaksi fakta internal dan eksternal individu. Menurut Hurlock (1990), penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk memperlihatkan sikap serta tingkah laku yang menyenangkan, sehingga ia diterima oleh kelompok atau lingkungannya. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai penyesuaian diri yang baik yaitu bimbingan untuk membantu anak belajar menjadi realistis tentang diri dan kemampuannya, dan bimbingan untuk belajar bersikap bagaimana cara yang akan membantu penerimaan sosial dan kasih sayang dari orang lain. Dalam interaksi individu akan menyeleksi segala sesuatu dari lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan, apabila interaksi harmonis maka dapat diharapkan terjadi perkembangan kepribadian yang sehat, sebaliknya jika tidak maka akan muncul masalah perilaku.

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYESUAIAN DIRI

Dalam kehidupan sehari-hari ternyata tidak setiap anak dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya. Anak yang “miskin” kepribadiannya atau kehidupan sosialnya, merasa tidak bahagia dan mengalami kesulitan dalam mengatasi masalah yang timbul. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan anak dalam menyesuaikan diri. Menurut Hurlock (1991) ada empat faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri, yaitu :

  1. Lingkungan tempat anak dibesarkan, yaitu kehidupan di dalam keluarga. Bila dalam keluarga tersebut dikembangkan perilaku sosial yang baik, sehingga pengalaman ini akan menjadi pedoman yang membantu anak untuk melakukan penyesuaian diri dan sosial di luar rumah.
  2. Model yang diperoleh anak di rumah, terutama dari orang tuanya. Anak biasanya akan meniru perilaku orang tua yang menyimpang, maka anak akan cenderung mengembangkan kepribadian yang tidak stabil.
  3. Motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian diri dan sosial. Motivasi ini dapat ditimbulkan dari pengalaman sosial awal yang menyenangkan, baik di rumah atau di luar rumah.
  4. Bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar penyesuaian diri.

Schneiders (1964) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah :

  1. Kondisi jasmani, yang meliputi pembawaan jasmaniah yang dibawa sejak lahir dan kondisi tubuh.
  2. Perkembangan dan kematangan, yang meliputi kematangan intelektual, sosial, moral, dan emosional.
  3. Kondisi lingkungan, yaitu rumah, keluarga, sekolah.

Faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri dibedakan menjadi dua. Pertama, faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari diri individu yang meliputi kondisi jasmani, psikologis, kebutuhan, kematangan intelektual, emosional, mental, dan motivasi. Kedua, faktor eksternal yang berasal dari lingkungan yang meliputi lingkungan rumah,keluarga, sekolah, dan masyarakat.

C. CIRI-CIRI PENYESUAIAN DIRI

Penyesuaian diri berlangsung secara terus-menerus dalam diri individu dan lingkungan. Schneiders (1964) memberikan kriteria individu dengan penyesuaian diri yang baik, yaitu sebagai berikut :

  1. Pengetahuan tentang kekurangan dan kelebihan dirinya.
  2. Objektivitas diri dan penerimaan diri
  3. Kontrol dan perkembangan diri
  4. Integrasi pribadi yang baik
  5. Adanya tujuan dan arah yang jelas dari perbuatannya
  6. Adanya perspektif, skala nilai, filsafat hidup yang adekuat
  7. Mempunyai rasa humor
  8. Mempunyai rasa tanggung jawab
  9. Menunjukkan kematangan respon
  10. Adanya perkembangan kebiasaan yang baik
  11. Adanya adaptabilitas
  12. Bebas dari respon-respon yang simtomatis atau cacat

m. Memiliki kemampuan bekerjasama dan menaruh minat terhadap orang lain

  1. Memiliki minat yang besar dalam bekerja dan bermain
  2. Adanya kepuasan dalam bekerja dan bermain
  3. Memiliki orientasi yang adekuat terhadap realitas

Whittaker mengatakan ciri-ciri individu yang dapat menyesuaikan diri secara sehat adalah yang :

  1. Mempunyai toleransi terhadap frustasi yang lebih baik
  2. Mempunyai sikap yang sehat terhadap fungsi tubuhnya
  3. Merasa diterima sebagai bagian dari kelompoknya
  4. Percaya diri dan tidak merasa rendah diri di hadapan orang banyak
  5. Mengerti kenapa individu berbuat dengan cara tertentu, atau mengapa individu mempunyai perasaan tertentu terhadap seseorang atau peristiwa tertentu.

Lazarus (1961, h. 10-13) menyatakan bahwa penyesuaian diri yang baik mencakup empat kriteria sebagai berikut :
a. Kesehatan fisik yang baik. Kesehatan fisik yang baik berarti individu bebas dari gangguan kesehatan seperti sakit kepala, gangguan pencernaan dan masalah selera makan ataupun masalah fisik yang disebabkan faktor psikologis.

b. Kenyamanan psikologis. Individu yang merasakan kenyamanan psikologis berarti terbebas dari gejala psikologis seperti obsesif-kompulsif, kecemasan dan depresi.

c. Efisiensi kerja. Efisiensi kerja dapat dicapai bila individu mampu memanfaatkan kapasitas kerja maupun sosialnya.

d. Penerimaan sosial. Penerimaan sosial terjadi bila individu diterima dan dapat berinteraksi dengan individu lain. Individu dapat diterima dan berinteraksi dengan individu lain jika individu mematuhi norma dan nilai yang berlaku.

 
D. ASPEK-ASPEK PENYESUAIAN DIRI

Schneiders (1964) mengungkapkan bahwa penyesuaian diri yang baik meliputi enam aspek sebagai berikut :
a. Kontrol terhadap emosi yang berlebihan.  Aspek ini menekankan kepada adanya kontrol dan ketenangan emosi individu yang memungkinkannya untuk menghadapi permasalahan secara cermat dan dapat menentukan berbagai kemungkinan pemecahan masalah ketika muncul hambatan. Bukan berarti tidak ada emosi sama sekali, tetapi lebih kepada kontrol emosi ketika menghadapi situasi tertentu.

b. Mekanisme pertahanan diri yang minimal.  Aspek ini menjelaskan pendekatan terhadap permasalahan lebih mengindikasikan respon yang normal dari pada penyelesaian masalah yang memutar melalui serangkaian mekanisme pertahanan diri yang disertai tindakan nyata untuk mengubah suatu kondisi. Individu dikategorikan normal jika bersedia mengakui kegagalan yang dialami dan berusaha kembali untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Individu dikatakan mengalami gangguan penyesuaian jika individu mengalami kegagalan dan menyatakan bahwa tujuan tersebut tidak berharga untuk dicapai.

c. Frustrasi personal yang minimal.  Individu yang mengalami frustrasi ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan tanpa harapan, maka akan sulit bagi individu untuk mengorganisir kemampuan berpikir, perasaan, motivasi dan tingkah laku dalam menghadapi situasi yang menuntut penyelesaian.

d. Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri.  Individu memiliki kemampuan berpikir dan melakukan pertimbangan terhadap masalah atau konflik serta kemampuan mengorganisasi pikiran, tingkah laku, dan perasaan untuk memecahkan masalah, dalam kondisi sulit sekalipun menunjukkan penyesuaian yang normal. Individu tidak mampu melakukan penyesuaian diri yang baik apabila individu dikuasai oleh emosi yang berlebihan ketika berhadapan dengan situasi yang menimbulkan konflik.

e. Kemampuan untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman masa lalu. Penyesuaian normal yang ditunjukkan individu merupakan proses belajar berkesinambungan dari perkembangan individu sebagai hasil dari kemampuannya mengatasi situasi konflik dan stres. Individu dapat menggunakan pengalamannya maupun pengalaman orang lain melalui proses belajar. Individu dapat melakukan analisis mengenai faktor-faktor apa saja yang membantu dan mengganggu penyesuaiannya.

f. Sikap realistik dan objektif. Sikap yang realistik dan objektif bersumber pada pemikiran yang rasional, kemampuan menilai situasi, masalah dan keterbatasan individu sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Sawrey dan Telford (1968) mengungkapkan aspek-aspek penyesuaian diri yaitu :
a. Kesadaran selektif. Penyesuaian diri yang baik membutuhkan kemampuan diri individu untuk melakukan seleksi. Kemampuan untuk melakukan seleksi didasarkan pada pengalaman-pengalaman dan hasil belajar.

b. Kemampuan toleransi. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik akan mampu menerima kehadiran individu lain dan menganggap individu tersebut apa adanya. Penyesuaian diri yang baik juga terlihat dari kemampuan menerima nilai hidup dan kode moral orang lain yang bertentangan dengan nilai hidup dan kode moral pribadi, serta mampu mengembangkannya dengan baik.

c. Integritas kepribadian. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik tidak merasa takut terhadap kehadiran individu lain, merasa aman dan tidak panik walau menghadapi hambatan dalam mencapai tujuan.

d. Harga diri. Pandangan dan keyakinan individu merupakan gambaran yang menunjukkan tentang kehidupan yang dijalani oleh individu.

e. Aktualisasi diri. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik selalu menyadari potensi-potensi yang dimiliki secara positif, konstruktif dan realistis dan berusaha untuk mengembangkan potensinya sebagai aktualisasi diri.

Runyon dan Haber (1984) menyebutkan bahwa penyesuaian diri yang dilakukan individu memiliki lima aspek sebagai berikut :

a. Persepsi terhadap realitas. Individu mengubah persepsinya tentang kenyataan hidup dan menginterpretasikannya, sehingga mampu menentukan tujuan yang realistik sesuai dengan kemampuannya serta mampu mengenali konsekuensi dan tindakannya agar dapat menuntun pada perilaku yang sesuai.

b. Kemampuan mengatasi stres dan kecemasan. Mempunyai kemampuan mengatasi stres dan kecemasan berarti individu mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam hidup dan mampu menerima kegagalan yang dialami.
c. Gambaran diri yang positif. Gambaran diri yang positif berkaitan dengan penilaian individu tentang dirinya sendiri. Individu mempunyai gambaran diri yang positif baik melalui penilaian pribadi maupun melalui penilaian orang lain, sehingga individu dapat merasakan kenyamanan psikologis.

d. Kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik. Kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik berarti individu memiliki ekspresi emosi dan kontrol emosi yang baik.

e. Hubungan interpersonal yang baik. Memiliki hubungan interpersonal yang baik berkaitan dengan hakekat individu sebagai makhluk sosial, yang sejak lahir tergantung pada orang lain. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik mampu membentuk hubungan dengan cara yang berkualitas dan bermanfaat.

Hmmmmmm…

Cinta datang kepada orang
yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan.
Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati.
Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah
disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan
keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan. Mungkin
Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah
sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti
bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut. Hal yang
menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang
sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya
menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi. Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik
cinta itu tak pernah hadir.

BAB I SKRIPSI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Semakin besar suatu bangsa, semakin besar perhatian terhadap generasi muda, sebab generasi muda merupakan penerus bangsa di berbagai bidang pada masa yang akan datang. Perhatian terhadap generasi muda yang begitu tinggi merupakan salah satu upaya pemerintah untuk terus menumbuhkan kesadaran bangsa Indonesia. Hal tersebut diabsahkan terutama pada orangtua untuk semakin memperhatikan pertumbuhan dan kesejahteraan generasi muda, baik dari segi jasmani maupun rohaninya.
Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Kualitas sumber daya manusia itu tergantung pada kualitas pendidikannya. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Kemajuan bangsa Indonesia hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pembaharuan pendidikan di Indonesia perlu terus dilakukan untuk menciptakan dunia pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Apa yang dapat diamati dari hasil pembelajaran disekolah dasar dan menengah di Indonesia adalah ketidakmampuan anak-anak menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan itu dimanfaatkan untuk memecahkan persoalan sehari-hari. Apa yang anak-anak peroleh disekolah, sebagian hanya hafalan dengan tingkat pemahaman yang rendah. Anak-anak hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta itu dengan pemecahan masalah yang belum dikuasai. Misalnya, dalam sistem pembelajaran, siswa harus terlibat dalam menentukan target yang akan dicapai, cara belajar, proses penilaian terhadap hasil belajar, dan menentukan sumber dari pembelajaran tersebut. Siswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan strategi belajar yang diinginkan, kreatifitas, dan berpikir secara kritis mengenai masalah-masalah yang dihadapi. Itu merupakan sebagian dari persoalan dalam dunia pendidikan yang saat ini terus dibenahi bersama.
Salah satu bentuk usaha dari pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia adalah menciptakan kurikulum yang lebih memberdayakan anak-anak. Selain itu adanya penyelenggaraan ekstrakurikuler yang baik yang dilaksanakan didalam lingkungan sekolah maupun diluar sekolah. Untuk itu, perlu dirancang sebuah kurikulum yang berorientasi pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, yakni melahirkan manusia Indonesia yang berkualitas dan kompeten. Kurikulum tersebut dikenal dengan kurikulum berbasis kompetensi (www.ham.go.id, 2004).
Berdasarkan sistem pendidikan, sekolah di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu sekolah reguler dan sekolah berstandar internasional. Sekolah reguler adalah sekolah yang mengacu dan mengikuti aturan dan sistem pendidikan nasional yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia. Sedangkan sekolah berstandar internasional adalah sekolah yang merujuk pada sistem dari sebuah negara tertentu. Seperti contohnya sistem pendidikan negara Amerika Serikat dan Inggris. Saat ini beberapa sekolah memilih IBO (International Baccularuate Organization) yang berpusat di Swiss untuk menjadi badan ”akreditasi” sekolah untuk pengakuan internasional yang lebih menekankan pada penguasaan konsep, pengetahuan, kemampuan yang dimiliki, sikap, dan perbuatan (Pontianak Post, 2007).
Berkaitan dengan sekolah yang marak diberi label internasional, ada kecenderungan muncul kebijakan yang cenderung kontroversial. Label internasional, seakan-akan menjadi hak mutlak untuk membuat kebijakan dengan menarik biaya mahal. Masyarakat atau orangtua kaya walaupun tidak memahami sekolah bertaraf internasional, namun mereka memiliki kemauan untuk membayar mahal disertai dengan harapan putra-putrinya di didik dan menjadi lulusan bertaraf internasional. Adapun orangtua yang memiliki penghasilan pas-pasan akan mengambil sikap protes dan mengeluh mengenai beban biaya.
Kebijakan yang ditetapkan oleh sekolah seperti itu bagi orangtua yang kaya dan mampu membayar biaya yang telah ditetapkan bagi mereka hanya sesuatu yang kecil, yang penting bagi mereka adalah anak-anak mereka bersekolah di sekolah bertaraf internasional. Selain itu, bagi anak-anak mereka yang juga kurang memahami mengenai apa makna sebenarnya sekolah internasional akan berbangga diri telah masuk ke sekolah yang menurut mereka memiliki gengsi yang tinggi, walaupun kemampuan yang mereka miliki tidak diketahui apakah sebanding dengan status sekolah yang mereka pilih (www.surya.co.id/web, 2007).
Istilah sekolah internasional sebenarnya sudah ada sejak lama. Hanya yang dikenal sejauh ini adalah sekolah yang siswanya kebanyakan anak pejabat tinggi kedutaan, konsulat, atau ekspatariat yang lebih dikenal dengan istilah pertukaran pelajar (Surya Online, 2007).
Pelaksanaan program sekolah nasional bertaraf internasional merupakan tantangan yang tidak ringan yang harus dijawab oleh sekolah yang ditunjuk. Gambaran sederhana pelaksanaan sekolah nasional bertaraf internasional adalah sekolah yang dalam proses pembelajarannya menggunakan kurikulum adaptif, dengan pendekatan multi metode, multi media, dan berbasis ICT (Information Communication Technology) atau yang dikenal dengan teknologi komunikasi informasi, juga menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia (billingual) sebagai pengantar (www.sman3smg.htm, 2006).
Sekolah standar internasional sampai saat ini juga belum diketahui tentang definisi pastinya, namun ada ciri-ciri tertentu yang membedakan sekolah standar internasional dengan sekolah standar nasional, yaitu : 1. bahasa pengantar yang digunakan disekolah adalah bahasa Inggris dan bahasa Indonesia (billingual); 2. bahasa pergaulan yang digunakan adalah bahasa Inggris; 3. kurikulum pendidikan yang digunakan tertuju pada pasar global atau internasional namun tetap berbasis pada budaya lokal dan nasional, disusun sendiri dengan memperhatikan kepentingan global; 4. alumni diharapkan dapat bersaing di pasar global dan melanjutkan pendidikan ke luar negeri; 5. fasilitas yang digunakan berstandar internasional; 6. manajemen sekolah juga menggunakan standar internasional (www.sman35yogyakarta.htm, 2006).
Sekolah internasional bukan sekolah eksklusif yang hanya untuk anak-anak kaya. Anak-anak pandai, meski miskin bisa masuk sekolah tersebut. Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk memasuki sekolah berstandar internasional, namun dengan biaya yang begitu tinggi anak yang memiliki orangtua yang berasal dari status ekonomi menengah ke bawah tentunya tidak dapat memasukkan anaknya pada sekolah bertaraf internasional (Sinar Harapan, 2007).
Pada sekolah bertaraf internasional siswa diarahkan untuk bersaing dengan siswa lain yang memiliki kualitas yang sama dengan sekolah internasional, sehingga meskipun secara akademik bagus, belum tentu anak tersebut yang memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan siswa yang lain. Hal ini dikarenakan setiap anak memiliki keungggulan masing-masing. Kemampuan anak, kemandirian, serta kerajinan anak menjadi faktor penentu dalam keberhasilan proses belajar. Semakin tinggi ketiga faktor tersebut dalam diri anak maka semakin cepat mereka dapat menyelesaikan pelajaran mereka (Harian Umum Pelita, 2007).
Sekolah reguler dalam proses pendidikannya terdiri atas: standar isi yang meliputi, silabus, program tahunan, program semester, materi pelajaran, metode pembelajaran; proses kompetensi lulusan; tenaga pendidik, dan tenaga kependidikan; sarana dan prasarana; pengelolaan; pembiayaan; dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Standar nasional pendidikan digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum; tenaga pendidik dan tenaga kependidikan; sarana dan prasarana; pengelolaan; dan pembiayaan. Pengembangan standar nasional pendidikan serta pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan standarisasi, penjamin, dan pengendalian mutu pendidikan (www.depdiknas.go.id, 2006).
Adanya perbedaan-perbedaan sebagaimana diuraikan diatas antara sekolah berstandar nasional dengan sekolah berstandar internasional memiliki keunggulan yang tidak sama. Pada sekolah berstandar nasional atau sekolah reguler di Indonesia terjebak pada hal-hal yang berorientasi pada administrasi, terkesan kaku, yang tidak mendorong dan memberi peluang kepada sekolah untuk melakukan inovasi dan kreativitas. Artinya bahwa kekakuan yang ada pada sekolah selama ini membuat sekolah menjadi tertinggal dibandingkan dengan kurikulum dan juga kemajuan yang dibuat oleh sekolah-sekolah lainnya, semua aspek dilihat dari sisi administrasi. Format yang ditentukan dari perencanaan pembelajaran yang meliputi : silabus, program tahunan, program semester, analisis materi pembelajaran, satuan pembelajaran, rencana pembelajaran, metode pembelajaran, model tagihan; bentuk rapor, sampai dengan format akreditasi sekolah, semuanya diolah serba seragam, bahkan kualitas interaksi pembelajaran pun dilihat dari sisi administrasi. Hal yang demikian akan menyebabkan sekolah selama ini terjebak dalam rutinitas berkepanjangan yang membosankan, dan hal ini tidak akan meningkatkan mutu pendidikan. Sedangkan pada sekolah berstandar internasional keunggulan yang dimiliki dapat dikatakan pendidikannya berbasis keunggulan lokal dan global. Pendidikan seperti yang dijelaskan yang memanfaatkan kenggulan dari lokal, dan kebutuhan daya saing global yang dilihat dari aspek ekonomi, budaya, bahasa, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik (www.pontianakpost.com, 2007).
Dapat disimpulkan bahwa, budaya yang telah didapatkan dari pelajaran dan pergaulan di sekolah secara tidak langsung berdampak pada pergaulan sehari-hari. Misalnya, Dudi adalah seorang anak laki-laki berumur 17 tahun. Tinggal di jakarta, mempunyai orang tua pegawai negeri dan masih duduk di kelas II SMA. Akhir-akhir ini Dudi membuat orangtuanya kesulitan. Hal ini karena Dudi sudah dua minggu membolos sekolah dan mengancam tidak akan masuk sekolah lagi jika orangtuanya tidak membelikannya mobil. Alasan Dudi, malu berangkat ke sekolah, karena semua teman-temannya membawa mobil sendiri ke sekolah (Sarlito, 2007). Pikiran mereka seperti ini di karenakan bahwa lingkungan pergaulan mereka mengarah pada budaya lain seperti budaya yang dianut oleh kebanyakan masyarakat diluar negeri seperti Amerika Serikat, Inggris, selain budaya yang mereka anut. Pada sekolah berstandar nasional hal ini bisa saja terjadi namun sangat kecil kemungkinannya di karenakan lingkungan mereka masih dalam budaya lokal sehingga mereka tetap memegang teguh apa yang telah diajarkan pada mereka sebelumnya, baik itu di rumah ataupun oleh pergaulan sehari-hari (www.jawapos.com, 2006).
Sebagai contoh lain, pengaruh lingkungan juga berperan dalam pembentukan perilaku remaja. Tidak semua orangtua dapat memilihkan sekolah yang mahal dan memiliki kualitas bagus untuk anaknya. Hal ini dikarenakan masing-masing orangtua memiliki status sosial dan ekonomi yang berbeda-beda. Orangtua yang memiliki penghasilan pas-pasan untuk dapat menyekolahkan anaknya disekolah yang berkualitas terkadang sering mengeluh. Sedang bagi orangtua yang berada pada status ekonomi menengah keatas tidak menjadi masalah. Ini juga mempengaruhi anaknya untuk membanggakan diri dengan teman-temannya karena sekolah yang dipilihkan oleh orangtuanya merupakan sekolah unggulan. Anak-anak tersebut sering membanggakan dirinya dengan teman-temannya dari sekolah lain karena keunggulan yang dimiliki sekolahnya. Sehingga seringkali mereka menyombongkan diri mereka sendiri. Namun, anak-anak tersebut terkadang tidak menyadari mengenai kemampuan yang dimilikinya sebanding atau tidak dengan kualitas sekolah (Wirawan, 2007)
Mempelajari kehidupan remaja memang merupakan hal yang menarik, karena masa remaja merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan untuk menjadi dewasa. Menurut keyakinan tradisional sebagian manusia dilahirkan dengan sifat sosial dan sebagian lagi tidak, yang artinya bahwa ada sebagian dari manusia yang bersifat antisosial dan tidak sosial. Hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa orang dilahirkan dalam keadaan sudah bersifat sosial, tidak sosial, atau anti sosial, dan banyak bukti sebaliknya yang menunjukkan bahwa mereka bersifat demikian karena hasil belajar, tetapi belajar menjadi pribadi yang sosial tidak dapat dicapai dalam waktu singkat (Hurlock, 2005).
Remaja merupakan kelompok yang sedang mencari identitas dirinya. Hal ini menyebabkan remaja cenderung menampilkan suatu pola perilaku yang tidak diharapkan sebagai bentuk pelampiasannya bahkan cenderung berperilaku antisosial. Salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang behubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa di luar lingkungan keluarga dan sekolah (Hurlock, 2005).
Menurut Hurlock (2005), remaja lebih banyak berada diluar rumah bersama dengan teman-teman sebaya sebagai kelompok, maka dapatlah dimengerti bahwa pengaruh teman-teman sebaya pada sikap, pembicaraan, minat, penampilan, dan perilaku lebih besar daripada pengaruh keluarga. Remaja dituntut menyesuaikan diri dengan lawan jenis dan orang dewasa diluar lingkungan dan keluarga dan sekolah. Pada usia sekolah (SMA) juga dituntut harus siap dan dapat berinteraksi, baik dengan teman sejenis maupun lawan jenis agar nantinya dalam pencapaian harapan dan cita-cita dapat terlaksana dengan baik.
Menurut Horrocks dan Benimof (dalam Hurlock, 2005) kelompok sebaya adalah dunia nyata kawula muda, yang menyiapkan panggung di mana individu dapat menguji diri sendiri dan orang lain. Ada dua faktor penyebabnya. Faktor penyebab yang dimaksudkan yaitu pertama, sebagian besar remaja ingin menjadi individu yang berdiri diatas kaki sendiri dan ingin dikenal sebagai individu yang mandiri, dan kedua, timbul dari akibat memilih sahabat. Kegiatan sosial dianggap kurang berarti dibandingkan dengan persahabatan yang lebih erat, maka pengaruh kelompok sosial yang besar menjadi kurang menonjol dibandingkan pengaruh dari teman-teman.
Pada masa adolescence yaitu masa remaja umur 12-25 tahun, yaitu masa topan dan badai (strum and drung), yang mencerminkan kebudayaan modern yang penuh gejolak akibat pertentangan nilai-nilai. Pada masa ini individu menuju pada masa konsolidasi untuk menuju proses dewasa sangat membutuhkan kawan-kawan. Remaja senang kalau memiliki banyak teman yang menyukainya. Ada kecenderungan narcistic, yaitu mencintai diri sendiri, dan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat yang sama dengan dirinya. Selain itu, remaja akan berada dalam kondisi kebingungan, karena ia tidak tahu harus memilih yang mana, peka atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis  atau materialis, sehingga muncullah perilaku egosentrisme dalam diri remaja. Hal ini menyebabkan remaja sulit untuk mengerti dan dimengerti oleh orang dewasa (Sarlito, 2007).
Perilaku egosentrisme merupakan bagian terpenting dari perkembangan aspek kognisi sosial remaja (Elkind dalam Desmita, 2006). Perilaku egosentrisme adalah kecenderungan remaja untuk menerima dunia dan dirinya sendiri dilihat dari perspektif individu itu sendiri. Remaja dalam hal ini mulai mengembangkan suatu gaya pemikiran egosentris, dimana masing-masing individu memikirkan tentang dirinya sendiri dan seolah-olah memandang dirinya dari atas.
Egosentrisme remaja (adolescent egocentrism) menggambarkan meningkatnya kesadaran diri remaja yang terwujud pada keyakinan masing-masing individu bahwa orang lain memiliki perhatian amat besar, sebesar perhatian mereka terhadap diri sendiri, dan terhadap perasaan akan keunikan pribadi mereka. Sebagai contoh, Tracy seorang remaja berumur 15 tahun, saat berjalan memasuki kelas semua mata melihat pada penampilannya. Hal ini dikarenakan ada noda kecil di rok panjangnya. Menyebabkan tracy berpikir bahwa orang lain akan menertawakannya dikarenakan ada noda pada rok tracy. Remaja beranggapan bahwa mereka menjadi pusat perhatian dari orang lain. Dan tracy beranggapan bahwa ia menjadi pusat perhatian dikarenakan ada noda di roknya dan semua orang memandangnya (Santrock, 2006).
Menurut psikolog David Elkind, egosentrisme remaja dapat dikelompokkan dalam dua bentuk pemikiran sosial yaitu, penonton khayalan dan dongeng pribadi. Penonton khayalan (imaginary audience) berarti keyakinan remaja bahwa orang lain memiliki perhatian yang amat besar terhadap diri mereka sebagaimana halnya remaja tersebut memperhatikan dirinya sendiri. Perilaku menarik perhatian, umum terjadi pada masa remaja, mencerminkan egosentrisme dan keinginan untuk tampil dan diperhatikan oleh orang lain. Sedangkan dongeng pribadi (the personal fable) ialah bagian dari egosentrisme remaja yang menjadikan mereka merasa bahwa tidak ada seorang pun dapat memahami bagaimana isi hati mereka sesungguhnya. Perasaan akan adanya keunikan pribadi mereka membuat mereka merasa bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memahami perasaan mereka (dalam Santrock, 2006).
Dapat disimpulkan bahwa remaja cenderung untuk melihat apa yang terjadi di lingkungan dari pandangan remaja itu sendiri atau yang sering disebut egosentrisme, karena sebagian remaja merasa bahwa mereka dapat menarik perhatian banyak orang dan juga bahwa apa yang mereka lakukan, apa yang mereka inginkan dan bagaimana isi hati mereka, tidak ada yang bisa memahami.
Begitu pula dengan siswa SMA berstandar internasional, sebagaimana mereka adalah remaja pada umumnya, berada di dalam ruang lingkup yang berbeda dengan siswa lain, juga dalam bahasa pergaulan sehari-hari, dan sistem pengajaran yang diterapkan oleh sekolah berbeda dengan SMA reguler atau yang biasa disebut dengan SMA standar nasional, menyebabkan mereka memilki penilaian yang berbeda mengenai orang lain dan dunia sosialnya. Tentang informasi yang diperoleh dari lingkungannya dan menggunakan informasi yang didapat dilakukan secara berbeda. Dan dari pergaulan sehari-hari menyebabkan cenderung memunculkan perilaku egosentris.
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas mengenai sistem pendidikan yang ada di Indonesia dan hubungannya dengan kecenderungan perilaku egosentrisme yang dimiliki oleh siswa menyebabkan adanya perbedaan perilaku antara siswa SMA berstandar Internasional dan siswa SMA reguler, maka masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : ”Apakah ada perbedaan kecenderungan perilaku egosentrisme antara siswa SMA berstandar internasional dengan siswa SMA reguler”.

C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kecenderungan perilaku egosentrisme antara siswa SMA berstandar internasional dengan siswa SMA reguler.

 

D.    Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan memperoleh manfaat sebagai berikut :
a.    Manfaat Praktis
Manfaat penelitian ini secara praktis :
1)    Dapat menjadi konsep atau bahan acuan bagi peneliti lain yang tertarik melakukan penelitian yang serupa.
2)    Bagi pihak sekolah, baik sekolah yang berstandar internasional maupun sekolah reguler atau disebut sekolah standar nasional diharapkan dapat menjadi acuan untuk mengetahui apa yang mempengaruhi munculnya perilaku egosentrisme.
3)    Bagi Dinas Pendidikan dapat terbantu dengan konsep-konsep sehingga lebih detail lagi dalam memberikan penjelasan mengenai perbedaan sekolah berstandar internasional dan sekolah reguler atau yang biasa disebut sekolah berstandar nasional, dalam mempengaruhi terbentuknya perilaku egosentrisme.
b.    Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai kecenderungan perilaku egosentrisme pada siswa yang bersekolah di sekolah internasional dan siswa yang bersekolah di sekolah reguler khususnya dan psikologi perkembangan, psikologi sosial, dan psikologi pendidikan pada umumnya.

Previous Older Entries