PENYESUAIAN DIRI REMAJA DI SEKOLAH

A. PENGERTIAN PENYESUAIAN DIRI

Guru mengeluhkan seringkali siswa di sekolah tidak dapat menyesuaikan diri baik dengan aturan yang ada di sekolah maupun teman-teman sebayanya. Seperti contohnya ada siswa yang sering mengabaikan tugasnya sehingga guru menganggap bahwa anak membangkang dan segera ditarik ke ruangan BK karena dianggap melanggar peraturan. Ada pula yang bertindak tidak sopan dengan salah seorang guru sehingga guru yang lain menanggap bahwa anak tersebut membuat perilaku yang buruk dan memberikan ketidak nyamanan terhadap lingkungan sekitarnya (Wawancara guru BK, 2010).

Penyesuaian diri merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan manusia hampir selalu berkaitan dengan penyesuaian diri, namun tidak semua tingkah laku manusia dapat dikatakan sebagai proses penyesuaian diri. Schneiders (1964) mengatakan bahwa konsep penyesuaian diri tidak dikenakan pada aktivitas manusia yang bersifat netral, misalnya seseorang yang berjalan-jalan, mendengarkan musik, atau menulis surat. Menurut Schneiders (1964) penyesuaian diri timbul apabila terdapat kebutuhan, dorongan, dan keinginan yang harus dipenuhi oleh seseorang, termasuk juga saat seseorang menghadapi suatu masalah atau konflik yang harus diselesaikan. Individu pada kondisi ini, akan mengalami proses belajar, belajar memahami, mengerti, dan berusaha untuk melakukan apa yang diinginkan oleh dirinya, maupun lingkungannya. Artinya, individu perlu mempertimbangkan adanya norma-norma yang berlaku di lingkungan dalam memenuhi kebutuhannya (Affiatin, 1993). Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelaraskan pemuasan kebutuhan diri dengan situasi lingkungan sehingga tercapai suatu integrasi dan keseimbangan.

Penyesuaian diri dapat dikatakan sebagai usaha beradaptasi, konform terhadap hati nurani maupun norma sosial, serta perencanaan dan pengorganisasian respon dalam menghadapi konflik dan masalah. Penyesuaian diri didukung oleh adanya kematangan emosi yang menyebabkan individu mampu untuk memberikan respon secara tepat dalam segala situasi.

Masalah penyesuaian timbul apabila ada suatu tuntutan dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang, atau apabila seseorang dihadapkan pada kesulitan yang harus diselesaikan, atau seseorang menghadapi konflik batin yang harus dipecahkan, dan kalau seseorang berada dalam keadaan frustasi dan mencoba mengatasinya (Schneider, 1964). Tuntutan semacam ini sering dijumpai pada setiap orang, baik dalam kehidupan bermasyarakat, di perkejaan, ataupun di dalam menghadapi tanggung jawab disegala bidang. Seseorang dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan, apabila dihadapkan pada persyaratan yang harus dipenuhi akan melibatkan kepribadian dan perilaku untuk terciptanya usaha penyesuaian. Proses penyesuaian berbentuk respon, sedangkan respon tersebut mewujudkan ekspresi langsung dari kepribadian.

Schneider (1964) berpendapat bahwa penyesuaian mengandung banyak arti, antara lain misalnya seseorang berusaha mengurangi tekanan dari dorongan kebutuhan atau seseorang yang mencoba mengurangi frustasi, dapat mengembangkan mekanisme psikologis, membentuk simptom, menggunakan pola perilaku yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai situasi, dapat juga bersikap tenang, efisien dalam memecahkan konflik dan belajar sebaik-baiknya menempatkan diri di tengah-tengah orang lain. Semua usaha tersebut tergolong usaha penyesuaian diri.

Menurut Tallent (Setiowati, 2000) di dalam setiap tahap kehidupan, individu akan berusaha untuk mencapai keselarasan antara tuntutan personal, biologis, sosial dan psikologis, serta tuntutan lingkungan sekitarnya. Ada sebagian individu yang berhasil dalam melakukan penyesuaian diri tetapi ada juga yang terhambat. Penyesuian diri yang baik akan memberikan kepuasan yang lebih besar bagi kehidupan seseorang. Hanya individu yang mempunyai kepribadian yang kuat yang mampu menyesuaikan diri secara baik.

Menurut Satmoko (2004) penyesuaian diri dipahami sebagai interaksi seseorang yang kontinu dengan dirinya sendiri, orang lain, dan dunianya. Seseorang dikatakan mempunyai penyesuaian diri yang berhasil apabila ia dapat mencapai kepuasan dalam usahanya memenuhi kebutuhan, mengatasi ketegangan, bebas dari berbagai simptom (gejala) yang mengganggu seperti, kecemasan, kemurungan, depresi, obsesi, atau gangguan psikosomatis yang dapat menghambat tugas seseorang. Sebaliknya, gangguan penyesuaian diri terjadi apabila seseorang tidak mampu mengatasi masalah yang dihadapi dan menimbulkan respons dan reaksi yang tidak efektif, situasi emosional yang tidak terkendali, dan keadaan yang tidak memuaskan.

Schneider (1964) mengatakan bahwa penyesuaian diri mempunyai empat unsur. Pertama, adaptation yaitu penyesuaian diri dipandang sebagai kemampuan individu dalam beradaptasi. Orang yang penyesuaian dirinya baik berarti ia mempunyai hubungan yang memuaskan dengan lingkungan. Misalnya, menghindari ketidaknyamanan akibat cuaca yang tidak diharapkan, maka orang membuat sesuatu untuk dapat berlindung. Kedua, conformity yaitu seseorang dikatakan mempunyai penyesuaian diri baik apabila memenuhi kriteria sosial dan hati nuraninya. Ketiga, mastery yaitu orang yang mempunyai penyesuaian diri yang baik mempunyai kemampuan dalam merencanakan da mengorganisasikan sesuatu respons yang muncul dari dalam dirinya sehingga dapat menyusun dan menanggapi segala masalah dengan efisien. Keempat, individual variation yaitu ada perbedaan individual pada perilaku dan respons yang muncul dari masing-masing individu dalam menanggapi masalah.

Menurut Gunarsa dan Gunarsa (Karanina & Suyasa, 2005) ada orang yang cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan, namun ada juga yang perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam dirinya dengan usaha penyesuaian diri seseorang mengadakan perubahan-perubahan tingkah laku dan sikap supaya mencapai kepuasan dan sukses dalam aktivitasnya, sedangkan menurut Fernald penyesuaian diri adalah “a continous process and in a general sense, it exust on a continuum”. Artinya bahwa penyesuaian diri adalah proses yang terus menerus dan bukan tahapan statis atau berhenti. Lebih khusus proses konstan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individu sebagaimana selalu timbul sepanjang kehidupan individu tersebut.

Dasar penting bagi terbentuknya suatu pola penyesuaian diri adalah kepribadian. Perkembangan kepribadian pada dasarnya dipengaruhi oleh interaksi fakta internal dan eksternal individu. Menurut Hurlock (1990), penyesuaian diri adalah kemampuan individu untuk memperlihatkan sikap serta tingkah laku yang menyenangkan, sehingga ia diterima oleh kelompok atau lingkungannya. Kondisi yang diperlukan untuk mencapai penyesuaian diri yang baik yaitu bimbingan untuk membantu anak belajar menjadi realistis tentang diri dan kemampuannya, dan bimbingan untuk belajar bersikap bagaimana cara yang akan membantu penerimaan sosial dan kasih sayang dari orang lain. Dalam interaksi individu akan menyeleksi segala sesuatu dari lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan, apabila interaksi harmonis maka dapat diharapkan terjadi perkembangan kepribadian yang sehat, sebaliknya jika tidak maka akan muncul masalah perilaku.

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYESUAIAN DIRI

Dalam kehidupan sehari-hari ternyata tidak setiap anak dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya. Anak yang “miskin” kepribadiannya atau kehidupan sosialnya, merasa tidak bahagia dan mengalami kesulitan dalam mengatasi masalah yang timbul. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan anak dalam menyesuaikan diri. Menurut Hurlock (1991) ada empat faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri, yaitu :

  1. Lingkungan tempat anak dibesarkan, yaitu kehidupan di dalam keluarga. Bila dalam keluarga tersebut dikembangkan perilaku sosial yang baik, sehingga pengalaman ini akan menjadi pedoman yang membantu anak untuk melakukan penyesuaian diri dan sosial di luar rumah.
  2. Model yang diperoleh anak di rumah, terutama dari orang tuanya. Anak biasanya akan meniru perilaku orang tua yang menyimpang, maka anak akan cenderung mengembangkan kepribadian yang tidak stabil.
  3. Motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian diri dan sosial. Motivasi ini dapat ditimbulkan dari pengalaman sosial awal yang menyenangkan, baik di rumah atau di luar rumah.
  4. Bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar penyesuaian diri.

Schneiders (1964) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah :

  1. Kondisi jasmani, yang meliputi pembawaan jasmaniah yang dibawa sejak lahir dan kondisi tubuh.
  2. Perkembangan dan kematangan, yang meliputi kematangan intelektual, sosial, moral, dan emosional.
  3. Kondisi lingkungan, yaitu rumah, keluarga, sekolah.

Faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri dibedakan menjadi dua. Pertama, faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari diri individu yang meliputi kondisi jasmani, psikologis, kebutuhan, kematangan intelektual, emosional, mental, dan motivasi. Kedua, faktor eksternal yang berasal dari lingkungan yang meliputi lingkungan rumah,keluarga, sekolah, dan masyarakat.

C. CIRI-CIRI PENYESUAIAN DIRI

Penyesuaian diri berlangsung secara terus-menerus dalam diri individu dan lingkungan. Schneiders (1964) memberikan kriteria individu dengan penyesuaian diri yang baik, yaitu sebagai berikut :

  1. Pengetahuan tentang kekurangan dan kelebihan dirinya.
  2. Objektivitas diri dan penerimaan diri
  3. Kontrol dan perkembangan diri
  4. Integrasi pribadi yang baik
  5. Adanya tujuan dan arah yang jelas dari perbuatannya
  6. Adanya perspektif, skala nilai, filsafat hidup yang adekuat
  7. Mempunyai rasa humor
  8. Mempunyai rasa tanggung jawab
  9. Menunjukkan kematangan respon
  10. Adanya perkembangan kebiasaan yang baik
  11. Adanya adaptabilitas
  12. Bebas dari respon-respon yang simtomatis atau cacat

m. Memiliki kemampuan bekerjasama dan menaruh minat terhadap orang lain

  1. Memiliki minat yang besar dalam bekerja dan bermain
  2. Adanya kepuasan dalam bekerja dan bermain
  3. Memiliki orientasi yang adekuat terhadap realitas

Whittaker mengatakan ciri-ciri individu yang dapat menyesuaikan diri secara sehat adalah yang :

  1. Mempunyai toleransi terhadap frustasi yang lebih baik
  2. Mempunyai sikap yang sehat terhadap fungsi tubuhnya
  3. Merasa diterima sebagai bagian dari kelompoknya
  4. Percaya diri dan tidak merasa rendah diri di hadapan orang banyak
  5. Mengerti kenapa individu berbuat dengan cara tertentu, atau mengapa individu mempunyai perasaan tertentu terhadap seseorang atau peristiwa tertentu.

Lazarus (1961, h. 10-13) menyatakan bahwa penyesuaian diri yang baik mencakup empat kriteria sebagai berikut :
a. Kesehatan fisik yang baik. Kesehatan fisik yang baik berarti individu bebas dari gangguan kesehatan seperti sakit kepala, gangguan pencernaan dan masalah selera makan ataupun masalah fisik yang disebabkan faktor psikologis.

b. Kenyamanan psikologis. Individu yang merasakan kenyamanan psikologis berarti terbebas dari gejala psikologis seperti obsesif-kompulsif, kecemasan dan depresi.

c. Efisiensi kerja. Efisiensi kerja dapat dicapai bila individu mampu memanfaatkan kapasitas kerja maupun sosialnya.

d. Penerimaan sosial. Penerimaan sosial terjadi bila individu diterima dan dapat berinteraksi dengan individu lain. Individu dapat diterima dan berinteraksi dengan individu lain jika individu mematuhi norma dan nilai yang berlaku.

 
D. ASPEK-ASPEK PENYESUAIAN DIRI

Schneiders (1964) mengungkapkan bahwa penyesuaian diri yang baik meliputi enam aspek sebagai berikut :
a. Kontrol terhadap emosi yang berlebihan.  Aspek ini menekankan kepada adanya kontrol dan ketenangan emosi individu yang memungkinkannya untuk menghadapi permasalahan secara cermat dan dapat menentukan berbagai kemungkinan pemecahan masalah ketika muncul hambatan. Bukan berarti tidak ada emosi sama sekali, tetapi lebih kepada kontrol emosi ketika menghadapi situasi tertentu.

b. Mekanisme pertahanan diri yang minimal.  Aspek ini menjelaskan pendekatan terhadap permasalahan lebih mengindikasikan respon yang normal dari pada penyelesaian masalah yang memutar melalui serangkaian mekanisme pertahanan diri yang disertai tindakan nyata untuk mengubah suatu kondisi. Individu dikategorikan normal jika bersedia mengakui kegagalan yang dialami dan berusaha kembali untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Individu dikatakan mengalami gangguan penyesuaian jika individu mengalami kegagalan dan menyatakan bahwa tujuan tersebut tidak berharga untuk dicapai.

c. Frustrasi personal yang minimal.  Individu yang mengalami frustrasi ditandai dengan perasaan tidak berdaya dan tanpa harapan, maka akan sulit bagi individu untuk mengorganisir kemampuan berpikir, perasaan, motivasi dan tingkah laku dalam menghadapi situasi yang menuntut penyelesaian.

d. Pertimbangan rasional dan kemampuan mengarahkan diri.  Individu memiliki kemampuan berpikir dan melakukan pertimbangan terhadap masalah atau konflik serta kemampuan mengorganisasi pikiran, tingkah laku, dan perasaan untuk memecahkan masalah, dalam kondisi sulit sekalipun menunjukkan penyesuaian yang normal. Individu tidak mampu melakukan penyesuaian diri yang baik apabila individu dikuasai oleh emosi yang berlebihan ketika berhadapan dengan situasi yang menimbulkan konflik.

e. Kemampuan untuk belajar dan memanfaatkan pengalaman masa lalu. Penyesuaian normal yang ditunjukkan individu merupakan proses belajar berkesinambungan dari perkembangan individu sebagai hasil dari kemampuannya mengatasi situasi konflik dan stres. Individu dapat menggunakan pengalamannya maupun pengalaman orang lain melalui proses belajar. Individu dapat melakukan analisis mengenai faktor-faktor apa saja yang membantu dan mengganggu penyesuaiannya.

f. Sikap realistik dan objektif. Sikap yang realistik dan objektif bersumber pada pemikiran yang rasional, kemampuan menilai situasi, masalah dan keterbatasan individu sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Sawrey dan Telford (1968) mengungkapkan aspek-aspek penyesuaian diri yaitu :
a. Kesadaran selektif. Penyesuaian diri yang baik membutuhkan kemampuan diri individu untuk melakukan seleksi. Kemampuan untuk melakukan seleksi didasarkan pada pengalaman-pengalaman dan hasil belajar.

b. Kemampuan toleransi. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik akan mampu menerima kehadiran individu lain dan menganggap individu tersebut apa adanya. Penyesuaian diri yang baik juga terlihat dari kemampuan menerima nilai hidup dan kode moral orang lain yang bertentangan dengan nilai hidup dan kode moral pribadi, serta mampu mengembangkannya dengan baik.

c. Integritas kepribadian. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik tidak merasa takut terhadap kehadiran individu lain, merasa aman dan tidak panik walau menghadapi hambatan dalam mencapai tujuan.

d. Harga diri. Pandangan dan keyakinan individu merupakan gambaran yang menunjukkan tentang kehidupan yang dijalani oleh individu.

e. Aktualisasi diri. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik selalu menyadari potensi-potensi yang dimiliki secara positif, konstruktif dan realistis dan berusaha untuk mengembangkan potensinya sebagai aktualisasi diri.

Runyon dan Haber (1984) menyebutkan bahwa penyesuaian diri yang dilakukan individu memiliki lima aspek sebagai berikut :

a. Persepsi terhadap realitas. Individu mengubah persepsinya tentang kenyataan hidup dan menginterpretasikannya, sehingga mampu menentukan tujuan yang realistik sesuai dengan kemampuannya serta mampu mengenali konsekuensi dan tindakannya agar dapat menuntun pada perilaku yang sesuai.

b. Kemampuan mengatasi stres dan kecemasan. Mempunyai kemampuan mengatasi stres dan kecemasan berarti individu mampu mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam hidup dan mampu menerima kegagalan yang dialami.
c. Gambaran diri yang positif. Gambaran diri yang positif berkaitan dengan penilaian individu tentang dirinya sendiri. Individu mempunyai gambaran diri yang positif baik melalui penilaian pribadi maupun melalui penilaian orang lain, sehingga individu dapat merasakan kenyamanan psikologis.

d. Kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik. Kemampuan mengekspresikan emosi dengan baik berarti individu memiliki ekspresi emosi dan kontrol emosi yang baik.

e. Hubungan interpersonal yang baik. Memiliki hubungan interpersonal yang baik berkaitan dengan hakekat individu sebagai makhluk sosial, yang sejak lahir tergantung pada orang lain. Individu yang memiliki penyesuaian diri yang baik mampu membentuk hubungan dengan cara yang berkualitas dan bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: